Minggu, 31 Maret 2013

AL HAYAT FI ZILALI TAUHID


 
1.       Memahami ruang pembahasan dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan sesuai dengan manhaj salafus soleh.
2.       Memahami empat bentuk tauhidullah yang menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun sunnah asma wa sifat, rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.
3.       Memahami dan termotivasi untuk melaksanakan sikap yang menjadi tuntutan utama dari setiap empat tauhid tersebut.



Kehidupan di bawah bayangan tauhid merupakan kehidupan yang dilalui oleh generasi pertama dibawah bimbingan Rasulullah SAW.  Untuk kita memastikan generasi ini mempunyai kekuatan bermodelkan pimpinan Rasulullah, maka perkara pertama mestilah dipastikan persoalan tauhid ini cukup jelas dan serasi dengan manhaj yang dipakai oleh salafus soleh.  Jelas tentang zat Allah, sifat-sifatNya, Asma’Nya dan juga Af’alNya.  Dari kejelasan ini membentuk tauhid yang jelas terhadap Allah dari segi asma dan sifat, rububiyah, mulukiyah dan juga uluhiyah Allah.  Kesemua ini dirangkumkan di dalam kata syahadat Laa ilaha illa Allah.  Dari sini terbentuk hubungan yang murni dan penuh kecintaan dengan Allah, Allah sebagai Rabb yang dijadikan pergantungan, Allah sebagai raja yang ditaati sepenuhnya dan akhirnya sebagai Ilah yang diabdikan diri kepadanya.  Dalam konsep-konsep seperti inilah terbentuknya kehidupan yang baik seperti yang digarapkan oleh Rasulullah SAW. 

Hasyiah

 1.     Allah.
Perbahasan tentang ketuhanan Allah SWT terbahagi kepada beberapa bahagian diantaranya ialah zat, sifat, asma’ dan af’al Allah.  Disamping itu bagaimana hubungan antara hamba dengan Tuhannya. 

1.1. Zat.

Zat Allah SWT adalah lebih besar dari apa yang dapat ditanggapi oleh pemikiran manusia karena akal dan pemikiran manusia amat terhad dan terbatas.  Banyak contoh yang manusia dapat memanfaatkan sesuatu tetapi tidak tahu bagaimanakah hakikat sesuatu bahkan mengetahuinya tidak membawa apa-apa faedah itu seperti hakikat aliran elektrik dan magnet.  Cukup hanya kita mengetahui ciri-ciri khususnya yang boleh memberikan manfaat kepada kita.  Kalau kita perbahaskan sesuatu yang tidak kita ketahui, kalam dan ungkapan kita boleh membawa fitnah kepada diri kita sendiri.  Oleh itu Rasulullah SAW menegah daripada kita berfikir tentang zat Allah.

Dalil :

·    Q.42:11, Dia lah yang menciptakan langit dan bumi, Ia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan dari jenis binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi binatang-binatang itu), dengan jalan yang demikian dikembangkan Nya (zuriat keturunan) kamu semua.  Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (ZatNya, sifat-sifatNya dan pentadbiranNya) dan Dia lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.
·      Q.6:103, Ia tidak dapat dilihat dan diliputi oleh penglihatan mata, sedang Ia dapat melihat (dan mengetahui hakikat) segala penglihatan (mata), dan Dia lah Yang Maha Halus (melayan hamba-hambaNya dengan belas kasihan), lagi Maha Mendalam pengetahuanNya.


1.2. Sifat.

Apabila kita memerhati mahluk-mahluk yang ada di sekeliling kita termasuk diri kita sendiri, kita dapati ia merupakan ciptaan yang begitu unik dengan susunan dan sistem-sistem yang berjalan dengan teratur, ikatan antara satu sama lain begitu efektif dan sebagainya itu semua akan membawa kepada kita isyarat bahawa Pencipta dan Pentadbir alam ini pastinya dengan yakin memiliki seluruh sifat-sifat kekurangan.  Al-Qur’an menyebut sesetengah sifat yang wajib bagi Allah yang menyempurnakan uluhiyahnya.

Dalil :

·   Q.7:180, Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya.  Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.
·      Q.17:110, Katakanlah (wahai Muhammad) : “Serulah nama “Allah” atau nama “Ar Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua itu adalah baik belaka), karena Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia”.  Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.


1.3. Asma.

Allah SWT telah memperkenalkan dirinya kepada mahluk-mahluknya dengan beberapa nama dan sifat yang layak dengan Keagungan dan KehebatanNya.  Sebaik-baiknya seorang mukmin itu menghafalnya karena padanya ada keberkatan, baik untuk diingati dan membesarkan kedudukanNya.

Dalil :

·   Hadits, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA katanya, sabda Rasulullah SAW : Bagi Allah itu sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu, tidaklah seseorang itu menghafalnya melainkan masuk syurga.  Allah itu witir sukakan yang witir.
·   Q.7:180, Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya.  Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.

1.4. Af’al.

Allah SWT berkuasa melakukan apa yang Dia kehendaki dan tidak ada sesiapapun yang berhak bertanya dan persoalkan apa yang Allah kehendaki bahkan perbuatan manusia yang akan dipersoalkan oleh Allah.  Jika Allah menghendaki kebaikan maka tidak siapa yang boleh menghalang dan begitu juga jika Allah menghendaki kemudaratan tidak ada siapa yang boleh menghalangnya.

Dalil :

·         Q.85:16, Yang berkuasa melakukan segala yang dikehendakinya.
·         Q.21:23, Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar