1. Memahami ruang pembahasan dalam
tauhid dengan benar tanpa penyelewengan sesuai dengan manhaj salafus soleh.
2. Memahami empat bentuk tauhidullah
yang menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun sunnah asma wa sifat,
rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.
3. Memahami dan termotivasi untuk
melaksanakan sikap yang menjadi tuntutan utama dari setiap empat tauhid
tersebut.
Kehidupan di bawah bayangan tauhid merupakan kehidupan yang dilalui oleh
generasi pertama dibawah bimbingan Rasulullah SAW. Untuk kita memastikan generasi ini mempunyai
kekuatan bermodelkan pimpinan Rasulullah, maka perkara pertama mestilah
dipastikan persoalan tauhid ini cukup jelas dan serasi dengan manhaj yang dipakai
oleh salafus soleh. Jelas tentang zat
Allah, sifat-sifatNya, Asma’Nya dan juga Af’alNya. Dari kejelasan ini membentuk tauhid yang
jelas terhadap Allah dari segi asma dan sifat, rububiyah, mulukiyah dan juga
uluhiyah Allah. Kesemua ini dirangkumkan
di dalam kata syahadat Laa ilaha illa Allah.
Dari sini terbentuk hubungan yang murni dan penuh kecintaan dengan
Allah, Allah sebagai Rabb yang dijadikan pergantungan, Allah sebagai raja yang
ditaati sepenuhnya dan akhirnya sebagai Ilah yang diabdikan diri
kepadanya. Dalam konsep-konsep seperti
inilah terbentuknya kehidupan yang baik seperti yang digarapkan oleh Rasulullah
SAW.
Hasyiah
1. Allah.
Perbahasan
tentang ketuhanan Allah SWT terbahagi kepada beberapa bahagian diantaranya
ialah zat, sifat, asma’ dan af’al Allah.
Disamping itu bagaimana hubungan antara hamba dengan Tuhannya.
1.1. Zat.
Zat
Allah SWT adalah lebih besar dari apa yang dapat ditanggapi oleh pemikiran
manusia karena akal dan pemikiran manusia amat terhad dan terbatas. Banyak contoh yang manusia dapat memanfaatkan
sesuatu tetapi tidak tahu bagaimanakah hakikat sesuatu bahkan mengetahuinya
tidak membawa apa-apa faedah itu seperti hakikat aliran elektrik dan
magnet. Cukup hanya kita mengetahui
ciri-ciri khususnya yang boleh memberikan manfaat kepada kita. Kalau kita perbahaskan sesuatu yang tidak
kita ketahui, kalam dan ungkapan kita boleh membawa fitnah kepada diri kita
sendiri. Oleh itu Rasulullah SAW menegah
daripada kita berfikir tentang zat Allah.
Dalil :
·
Q.42:11,
Dia lah yang menciptakan langit dan bumi, Ia menjadikan bagi kamu
pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan dari jenis
binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi binatang-binatang itu), dengan
jalan yang demikian dikembangkan Nya (zuriat keturunan) kamu semua. Tiada sesuatupun yang sebanding dengan
(ZatNya, sifat-sifatNya dan pentadbiranNya) dan Dia lah Yang Maha Mendengar,
lagi Maha Melihat.
· Q.6:103,
Ia tidak dapat dilihat dan diliputi oleh penglihatan mata, sedang Ia dapat
melihat (dan mengetahui hakikat) segala penglihatan (mata), dan Dia lah Yang
Maha Halus (melayan hamba-hambaNya dengan belas kasihan), lagi Maha Mendalam pengetahuanNya.
1.2. Sifat.
Apabila
kita memerhati mahluk-mahluk yang ada di sekeliling kita termasuk diri kita
sendiri, kita dapati ia merupakan ciptaan yang begitu unik dengan susunan dan
sistem-sistem yang berjalan dengan teratur, ikatan antara satu sama lain begitu
efektif dan sebagainya itu semua akan membawa kepada kita isyarat bahawa
Pencipta dan Pentadbir alam ini pastinya dengan yakin memiliki seluruh
sifat-sifat kekurangan. Al-Qur’an
menyebut sesetengah sifat yang wajib bagi Allah yang menyempurnakan
uluhiyahnya.
Dalil :
· Q.7:180,
Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan
berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang
yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya. Mereka akan mendapat balasan mengenai apa
yang mereka telah kerjakan.
·
Q.17:110,
Katakanlah (wahai Muhammad) : “Serulah nama “Allah” atau nama “Ar Rahman”, yang
mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua itu adalah baik belaka), karena Allah
mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia”. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa
atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja
satu cara yang sederhana antara itu.
1.3. Asma.
Allah
SWT telah memperkenalkan dirinya kepada mahluk-mahluknya dengan beberapa nama
dan sifat yang layak dengan Keagungan dan KehebatanNya. Sebaik-baiknya seorang mukmin itu
menghafalnya karena padanya ada keberkatan, baik untuk diingati dan membesarkan
kedudukanNya.
Dalil :
·
Hadits,
diriwayatkan dari Abu Hurairah RA katanya, sabda Rasulullah SAW : Bagi Allah
itu sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu, tidaklah seseorang itu
menghafalnya melainkan masuk syurga.
Allah itu witir sukakan yang witir.
· Q.7:180,
Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan
berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang
yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya. Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang
mereka telah kerjakan.
1.4. Af’al.
Allah
SWT berkuasa melakukan apa yang Dia kehendaki dan tidak ada sesiapapun yang
berhak bertanya dan persoalkan apa yang Allah kehendaki bahkan perbuatan
manusia yang akan dipersoalkan oleh Allah.
Jika Allah menghendaki kebaikan maka tidak siapa yang boleh menghalang
dan begitu juga jika Allah menghendaki kemudaratan tidak ada siapa yang boleh
menghalangnya.
Dalil :
·
Q.85:16,
Yang berkuasa melakukan segala yang dikehendakinya.
·
Q.21:23,
Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan
ditanya kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar