At-Ta'aamul Billaah
*dikutip dari salah satu kumpulan esai ust.Anis Matta "Arsitek Peradaban"
Hidup adalah sebuah pertanggungjawaban. itu merupakan kesadaran eksistensial yang hadir secara intens dalam nurani harakiyah seorang muslim.
ia menyadari dengan amat dalam, bahwa di atas jalan panjang kehidupan ini, ia sesungguhnya memikul 'Qaulan Tsaqiila'. Dengan kesadaran yang sangat berani, ia menerima amanah itu. Dan dengan kesadaran yang sama, ia menyadari betapa berat sungguh amanah itu. Tapi ia telah memilih.
Ia menyadari realitas besar ini : tantangan yang dihadapinya selalu lebih besar berpuluh kali lipat dari kemampuannya untuk menjawabnya.
Tapi dibalik itu semua, ia juga memiliki keyakinan yang sangat dalam, dengan 'siapa' ia berta'aamul. Ia berta'aamul dengan Zat Mahabesar, Allah SWT., Pencipta dan Pemilik segenap isi alam raya dan segala yang maujuud. Ia menyadari bahwa ia dan tantangannya adalah bagian dari ciptaan dan milik-Nya. Dan karenanya, tak satu pun peristiwa diketahui atau tidak diketahui, direncanakan atau tidak direncanakan oleh manusia yang dapat terjadi dan menjadi realitas, kecuali dalam orbit izin dan kehendak-Nya.
keyakinan ini memberikan dua kontribusi harakiyah dalam diri s eorang muslim : milai dan sikap jiwa.
pada skala nilai, berta'aamul dengan Allah Swt. akan memberi batasan motivasi, orientasi, persepsi dan konsepsi bagi seorang muslim. Itu membuat jalan hidup seorang muslim terpeta dan tervisualisasi secara terus menerus dalam benaknya. Di permukaan latar, pemikikran, keterpetaan, dan visualisasi itu memberinya kekebalan nilai dari semua kemungkinan infiltrasi.
Tapi skala nilai itu tentu saja baru menutupi satu sisi kehidupan internal manusia muslim. proses yang sesungguhnya lebih penting, adalah internalisasi nilai itu menjadi sebuah sikap jiwa. dan inilah kontribusi kedua dari keyakinan berta'aamul dengan Allah Swt.
Skala nilai, visi, dan persepsi itu hanya memberi peta masalah dan tantangan yang jelas kepada seorang muslim. tapi kemampuan untuk menghadapi dan mengatasinya, pada akhirnya ditentukan oleh sikap jiwa.
mereka berkeyakinan berta'aamul dengan Allah Swt. menyuplai jiwa seorang muslim dengan kekuatan dan kemampuan kendali. Ini membuatnya tenang, berani, dan tak pernah kehabisan nafas, kehendak dan tekad untuk terus maju, beraksi, dan bertindak. Sebab tantangan-tantangan itu, dalam kesadaran imaniyahnya, tak pernah menjadi lebih besar dari kemampuan jiwanya untuk menghadapinya. mekipun kadang, di mata manusia awam, ketenangan dan keberanian njiwa itu seperti sebuah kegilaan yang tak berperhitungan.
Dalam menghadapi tantangan, keyakinan berta'aamul dengan Allah Swt. haruslah menjadi 'bingkai' yang merangkum seluruh 'perhitungan-perhitungan' manusiawi-material kita. Sebab perhitungan manusiawi-material yang terlalu ketat hanya mengukung jiwa dalam lingkaran setan ketakutan yang tak berujung.
Di awal masa kebangkitan, seperti yang kita alami sekarang ini, tantangan kita selalu lebih besar dari pada kemampuan kita untuk menghadapinya. Untuk itu, sesungguhnya kita membutuhkan lebih banyak tenaga ruhaniah ketimbang kecerdasan.
Dengan cara itulah Rasulullah Saw. sanggup menyelesaikan tantangan-tantangan dakwah beliau. Dan dunia ini, kata Bernard Shaw, memerlukan manusia seperti Muhammad yang dapat menyelesaikan masalah palking pelik di dunia ini sambil meneguk secangkir kopi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar