Senin, 01 April 2013

memahami makna syahadatain

Di kalangan masyarakat Arab di zaman Nabi SAW, mereka memahami betul makna dari syahadatain ini, terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi SAW mengumpulkan ketua-ketua Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi SAW bersabda :  Wahai saudara-saudara, mahukah kalian aku beri satu kalimat, dimana de-ngan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab.  Kemudian Abu Jahal terus menjawab :  Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.  Kemudian Nabi SAW bersabda :  Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah dan Muhammadan Rasulullah.  Abu Jahal pun terus menjawab :  Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.

Penolakan Abu Jahal kepada kalimah ini, bukan kerana dia tidak faham akan makna dari kalimat itu, tetapi justru sebaliknya.  Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat dan patuh kepada Allah SWT sahaja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya.  Abu Jahal ingin mendapatkan loyaliti dari kaum dan bangsanya.  Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya.  Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah mengaplikasikan syahadah.

Sebenarnya apabila mereka memahami bahawa loyaliti kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan kepada diri kita.  Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai.  Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim.  Abu Jahal adalah tokoh di kalangan Jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi diantaranya ialah ahli hukum (Abu Amr).  Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.

At-Ta'aamul Billaah

 At-Ta'aamul Billaah

*dikutip dari salah satu kumpulan esai ust.Anis Matta "Arsitek Peradaban"

Hidup adalah sebuah pertanggungjawaban. itu merupakan kesadaran eksistensial yang hadir secara intens dalam nurani harakiyah seorang muslim.

ia menyadari dengan amat dalam, bahwa di atas jalan panjang kehidupan ini, ia sesungguhnya memikul 'Qaulan Tsaqiila'. Dengan kesadaran yang sangat berani, ia menerima amanah itu. Dan dengan kesadaran yang sama, ia menyadari betapa berat sungguh amanah itu. Tapi ia telah memilih.

Ia menyadari realitas besar ini : tantangan yang dihadapinya selalu lebih besar berpuluh kali lipat dari kemampuannya untuk menjawabnya.

Tapi dibalik itu semua, ia juga memiliki keyakinan yang sangat dalam, dengan 'siapa' ia berta'aamul. Ia berta'aamul dengan Zat Mahabesar, Allah SWT., Pencipta dan Pemilik segenap isi alam raya dan segala yang maujuud. Ia menyadari bahwa ia dan tantangannya adalah bagian dari ciptaan dan milik-Nya. Dan karenanya, tak satu pun peristiwa diketahui atau tidak diketahui, direncanakan atau tidak direncanakan oleh manusia yang dapat terjadi dan menjadi realitas, kecuali dalam orbit izin dan kehendak-Nya.

keyakinan ini memberikan dua kontribusi harakiyah dalam diri s eorang muslim : milai dan sikap jiwa.
pada skala nilai, berta'aamul dengan Allah Swt. akan memberi batasan motivasi, orientasi, persepsi dan konsepsi bagi seorang muslim. Itu membuat jalan hidup seorang muslim terpeta dan tervisualisasi secara terus menerus dalam benaknya. Di permukaan latar, pemikikran, keterpetaan, dan visualisasi itu memberinya kekebalan nilai dari semua kemungkinan infiltrasi.

Tapi skala nilai itu tentu saja baru menutupi satu sisi kehidupan internal manusia muslim. proses yang sesungguhnya lebih penting, adalah internalisasi nilai itu menjadi sebuah sikap jiwa. dan inilah kontribusi kedua dari keyakinan berta'aamul dengan Allah Swt.

Skala nilai, visi, dan persepsi itu hanya memberi peta masalah dan tantangan yang jelas kepada seorang muslim. tapi kemampuan untuk menghadapi dan mengatasinya, pada akhirnya ditentukan oleh sikap jiwa.
mereka berkeyakinan berta'aamul dengan Allah Swt. menyuplai jiwa seorang muslim dengan kekuatan dan kemampuan kendali. Ini membuatnya tenang, berani, dan tak pernah kehabisan nafas, kehendak dan tekad untuk terus maju, beraksi, dan bertindak. Sebab tantangan-tantangan itu, dalam kesadaran imaniyahnya, tak pernah menjadi lebih besar dari kemampuan jiwanya untuk menghadapinya. mekipun kadang, di mata manusia awam, ketenangan dan keberanian njiwa itu seperti sebuah kegilaan yang tak berperhitungan.

Dalam menghadapi tantangan, keyakinan berta'aamul dengan Allah Swt. haruslah menjadi 'bingkai' yang merangkum seluruh 'perhitungan-perhitungan' manusiawi-material kita. Sebab perhitungan manusiawi-material yang terlalu ketat hanya mengukung jiwa dalam lingkaran setan ketakutan yang tak berujung.

Di awal masa kebangkitan, seperti yang kita alami sekarang ini, tantangan kita selalu lebih besar dari pada kemampuan kita untuk menghadapinya. Untuk itu, sesungguhnya kita membutuhkan lebih banyak tenaga ruhaniah ketimbang kecerdasan.

Dengan cara itulah Rasulullah Saw. sanggup menyelesaikan tantangan-tantangan dakwah beliau. Dan dunia ini, kata Bernard Shaw, memerlukan manusia seperti Muhammad yang dapat menyelesaikan masalah palking pelik di dunia ini sambil meneguk secangkir kopi.

Minggu, 31 Maret 2013

AL HAYAT FI ZILALI TAUHID


 
1.       Memahami ruang pembahasan dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan sesuai dengan manhaj salafus soleh.
2.       Memahami empat bentuk tauhidullah yang menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun sunnah asma wa sifat, rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.
3.       Memahami dan termotivasi untuk melaksanakan sikap yang menjadi tuntutan utama dari setiap empat tauhid tersebut.



Kehidupan di bawah bayangan tauhid merupakan kehidupan yang dilalui oleh generasi pertama dibawah bimbingan Rasulullah SAW.  Untuk kita memastikan generasi ini mempunyai kekuatan bermodelkan pimpinan Rasulullah, maka perkara pertama mestilah dipastikan persoalan tauhid ini cukup jelas dan serasi dengan manhaj yang dipakai oleh salafus soleh.  Jelas tentang zat Allah, sifat-sifatNya, Asma’Nya dan juga Af’alNya.  Dari kejelasan ini membentuk tauhid yang jelas terhadap Allah dari segi asma dan sifat, rububiyah, mulukiyah dan juga uluhiyah Allah.  Kesemua ini dirangkumkan di dalam kata syahadat Laa ilaha illa Allah.  Dari sini terbentuk hubungan yang murni dan penuh kecintaan dengan Allah, Allah sebagai Rabb yang dijadikan pergantungan, Allah sebagai raja yang ditaati sepenuhnya dan akhirnya sebagai Ilah yang diabdikan diri kepadanya.  Dalam konsep-konsep seperti inilah terbentuknya kehidupan yang baik seperti yang digarapkan oleh Rasulullah SAW. 

Hasyiah

 1.     Allah.
Perbahasan tentang ketuhanan Allah SWT terbahagi kepada beberapa bahagian diantaranya ialah zat, sifat, asma’ dan af’al Allah.  Disamping itu bagaimana hubungan antara hamba dengan Tuhannya. 

1.1. Zat.

Zat Allah SWT adalah lebih besar dari apa yang dapat ditanggapi oleh pemikiran manusia karena akal dan pemikiran manusia amat terhad dan terbatas.  Banyak contoh yang manusia dapat memanfaatkan sesuatu tetapi tidak tahu bagaimanakah hakikat sesuatu bahkan mengetahuinya tidak membawa apa-apa faedah itu seperti hakikat aliran elektrik dan magnet.  Cukup hanya kita mengetahui ciri-ciri khususnya yang boleh memberikan manfaat kepada kita.  Kalau kita perbahaskan sesuatu yang tidak kita ketahui, kalam dan ungkapan kita boleh membawa fitnah kepada diri kita sendiri.  Oleh itu Rasulullah SAW menegah daripada kita berfikir tentang zat Allah.

Dalil :

·    Q.42:11, Dia lah yang menciptakan langit dan bumi, Ia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan dari jenis binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi binatang-binatang itu), dengan jalan yang demikian dikembangkan Nya (zuriat keturunan) kamu semua.  Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (ZatNya, sifat-sifatNya dan pentadbiranNya) dan Dia lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.
·      Q.6:103, Ia tidak dapat dilihat dan diliputi oleh penglihatan mata, sedang Ia dapat melihat (dan mengetahui hakikat) segala penglihatan (mata), dan Dia lah Yang Maha Halus (melayan hamba-hambaNya dengan belas kasihan), lagi Maha Mendalam pengetahuanNya.


1.2. Sifat.

Apabila kita memerhati mahluk-mahluk yang ada di sekeliling kita termasuk diri kita sendiri, kita dapati ia merupakan ciptaan yang begitu unik dengan susunan dan sistem-sistem yang berjalan dengan teratur, ikatan antara satu sama lain begitu efektif dan sebagainya itu semua akan membawa kepada kita isyarat bahawa Pencipta dan Pentadbir alam ini pastinya dengan yakin memiliki seluruh sifat-sifat kekurangan.  Al-Qur’an menyebut sesetengah sifat yang wajib bagi Allah yang menyempurnakan uluhiyahnya.

Dalil :

·   Q.7:180, Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya.  Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.
·      Q.17:110, Katakanlah (wahai Muhammad) : “Serulah nama “Allah” atau nama “Ar Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua itu adalah baik belaka), karena Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia”.  Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.


1.3. Asma.

Allah SWT telah memperkenalkan dirinya kepada mahluk-mahluknya dengan beberapa nama dan sifat yang layak dengan Keagungan dan KehebatanNya.  Sebaik-baiknya seorang mukmin itu menghafalnya karena padanya ada keberkatan, baik untuk diingati dan membesarkan kedudukanNya.

Dalil :

·   Hadits, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA katanya, sabda Rasulullah SAW : Bagi Allah itu sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu, tidaklah seseorang itu menghafalnya melainkan masuk syurga.  Allah itu witir sukakan yang witir.
·   Q.7:180, Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya.  Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.

1.4. Af’al.

Allah SWT berkuasa melakukan apa yang Dia kehendaki dan tidak ada sesiapapun yang berhak bertanya dan persoalkan apa yang Allah kehendaki bahkan perbuatan manusia yang akan dipersoalkan oleh Allah.  Jika Allah menghendaki kebaikan maka tidak siapa yang boleh menghalang dan begitu juga jika Allah menghendaki kemudaratan tidak ada siapa yang boleh menghalangnya.

Dalil :

·         Q.85:16, Yang berkuasa melakukan segala yang dikehendakinya.
·         Q.21:23, Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak.

TAUHIDUL IBADAH



  TAUHIDUL  IBADAH



Pengabdian diri manusia boleh berlaku kepada siapa sahaja berasaskan kefahaman dan keyakinan seseorang.  Bagi muslim, pengabdian tidak sekali-kali boleh berlaku melainkan hanya kepada Allah penuh ikhlas.  Keikhlasan dalam beribadah ini dapat dicapai menerusi dua perkara yang saling berkait antara satu sama lain.  Pertama dengan mengkufuri segala thogut, menjauhkan diri dari thagut dan tidak pula berlaku syirik kepada Allah.  Dalam masa yang sama mestilah tertahqiq juga keimanan kepada Allah langsung mengabdikan diri hanya kepada Allah semata-mata.  Apabila tauhidullah tercapai dengan sempurna maka disitulah tercapainya tauhidul ibadah karena asas tauhidul ibadah adalah tauhidullah yang mantap.

Tauhidullah - Ikhlas. 

Mentauhidkan Allah secara ikhlas dalam segala pengertian rububiyah, mulkiyah dan uluhiyahnya menjadi kan kita seorang yang betul-betul beriman kepada Allah secara sahih.


Dalil :

· Q.112:1-3, Katakanlah Muhammad, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat pergantungan.  Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
· Q.38:83, Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas diantara mereka.


1.     Mengingkari Thagut.

Unsur pertama di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penolakan iaitu tercetus dalam hati rasa keingkaran terhadap thagut.  Hati tidak dapat menerima kehadiran thagut lantaran iman kepada Allah.

Dalil :

·  Q.2:256, Sesiapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh.
·  Q.4:60, Mereka hendak meminta hukum kepada thagut sedang mereka disuruh kufur terhadap thagut.  Syaitan menghendaki supaya dia dapat menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.

1.1. Menjauhi Thagut.

Bukan sekedar perasaan dalaman sahaja mengingkari thagut bahkan secara lahiriahnya juga berusaha sedaya mungkin menepati tuntutan tersebut dalam apa juga hal.

Dalil :

·  Q.16:36, Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thagut.
·  Q.39:16-18, Orang-orang yang menjauhi dari menyembah thagut dan kembali kepada Allah untuk mereka itu kabar gembira.  Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hambaKu.

1.2. Tidak Adanya Syirik.

Apabila kita telah melengkapi ciri-ciri ini, dimana hati kita menolak thagut dan amal perbuatan kita juga tidak selari dengan jalan thagut bahkan menyisih diri darinya maka pergantungan kita hanyalah semata-mata kepada Allah azzawajalla.  Kita tidak lagi mensyirik kan Allah dengan sesuatu yang lain.

Dalil :

·  Q.39:3, Ingatlah, (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala rupa syirik).  Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung dan penolong (sambil berkata) : “Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya”, sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang orang yang tidak melakukan syirik) tentang apa yang mereka berselisihan padanya.  Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi senantiasa kufur (dengan melakukan syirik).
·  Q.39:11, Katakanlah lagi (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat kepadaNya”.
·  Q.39:14, Katakanlah lagi : “Allah jualah yang aku sembah dengan mengikhlaskan amalan agamaku kepadaNya”.


2.     Iman Terhadap Allah.

Unsur kedua di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penerimaan iaitu unsur menerima keimanan kepada Allah sepenuh hati.  Keimanan yang jitu tidak akan menempati dihati jika unsur pembersihan dari karat-karat keyakinan kepada thagut tidak dibasmikan.

Dalil :

·  Q.2:256, Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur).  Oleh itu sesiapa yang tidak percayakan thogut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus.  Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.


2.1. Mengabdikan Diri Hanya Kepada Allah.

Bukti kepada penerimaan hati terhadap keimanan kepada Allah tidak akan dapat dilihat kecuali dengan pengabdian diri yang sepenuhnya kepada Allah SWT.  Tidak tunduk atau taat melainkan apa yang bersesuaian dengan tuntutan keimanan kepada Allah SWT.

Dalil :

·  Q.16:36, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap ummat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka) : “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Thagut”.  Maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah dan ada pula yang berhak ditimpa kesesatan.  Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana buruknya kesudahan ummat-ummat yang mendustakan Rasul-Rasulnya.


2.2. Mengesakan Allah dalam Beribadah.

Dalam ibadah-ibadah yang dilakukan senantiasa mengesakan Allah.  Tidak mencampur-aduk kan dengan perihal-perihal lain yang boleh membawa arti syirik, riya’ dan sebagainya seperti beribadah supaya dipuji orang dan seterusnya.

Dalil :

·  Q.98:5, Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid dan supaya mereka mendiri kan sembahyang serta memberi zakat.  Dan yang demikian itulah agama yang benar.